Sukanto Tanoto Memegang Prinsip Profesionalisme Dalam Mengelola Rge

Diposting pada 30 views

Dalam mengelola usaha, profesionalisme mempunyai pengaruh besar. Pengusaha Sukanto Tanoto tahu persis hal tersebut. Maka, pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) selalu bersikap profesional dalam mengelola perusahaannya.

Sumber: RGEI (http://www.rgei.com/about/our-leadership)

Sukanto Tanoto mendirikan RGE pada 1967 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Perusahaannya itu sudah berbeda jauh dibanding ketika pertama kali didirikan. Kala itu, RGE hanya perusahaan kelas lokal, namun sekarang mereka merupakan korporasi kelas internasional dengan bisnis yang beragam.

Sampai ketika ini, Sukanto Tanoto masih memegang kendali RGE. Ia menduduki posisi Chairman yang menentukan arah perusahaan. Namun, ia tidak bisa menjalankannya seorang diri. Butuh proteksi dari pihak lain terutama para karyawannya dalam mengelola perusahaan.

Dalam hal ini, Sukanto Tanoto memegang dekat prinsip profesionalisme. Ia melaksanakan sistem delegasi pekerjaan. Pria kelahiran 25 Desember 1949 ini tidak ragu memberi kepercayaan kepada pihak lain dalam menjalankan sebuah pekerjaan.

Namun, sebelum itu, Sukanto Tanoto telah bersiap. Ia membangun organisasi yang solid terlebih dulu. Dengan demikian, RGE bisa berjalan di koridor yang diharapkan.

Prinsip profesionalisme yang dijalankan di RGE terlihat dari cara pemilihan jabatan di perusahaan. Sukanto Tanoto menekankan terhadap kapabilitas dibanding apa pun. Artinya, siapa pun, tidak peduli dengan suku, gender, atau latar belakangnya, bisa memperolehnya asalkan memang mempunyai kemampuan mumpuni.

Cerita salah seorang karyawan Asian Agri berjulukan Anisa Handayani bisa menjadi contoh. Ia merupakan Sustainability Officer di Departemen Environmental, Sustainability, dan Corporate Social Responsibility (CSR) di anak perusahaan RGE tersebut.

Sehari-hari Anisa bekerja mengurusi mengurusi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).

“Pekerjaan utama saya berkoordinasi dengan para pemimpin unit lainnya untuk mengecek apakah implementasi di lapangan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh sertifikasi,” katanya.

Ini tidak sembarangan. Karena selain berarti penting dalam upaya pelestarian alam, Anisa menjadi perempuan pertama yang direkrut di dalam divisi perusahaannya.

Sebelumnya pekerjaan ini sangat identik dengan kaum pria. Para perempuan dianggap tidak bisa menjalankannya dengan baik. Namun, Sukanto Tanoto tidak pernah menekankan terhadap stereotype ibarat itu. Ia tegas menginstruksikan semoga perusahaannya memandang kapabilitas dibanding latar belakang apa pun.

Hal ini risikonya menciptakan Anisa dipercaya. Sebab, Asian Agri tahu ia mempunyai kapabilitas yang mumpuni dalam menjalankan pekerjaannya.

“Perkebunan ini masih memegang dekat tradisi usang yang sangat berorientasi kepada pria. Mereka juga melaksanakan stereotype perempuan itu lemah dan tidak cocok bekerja di perkebunan,” ujar Anisa.

Namun, ia berhasil mematahkan pandangan miring tersebut. Anisa sukses menjalankan pekerjaannya dengan baik. “Sekarang saya sudah bertahan disini selama hampir empat tahun. Jika tidak diremehkan, saya mungkin tidak bisa menerangkan jika perempuan juga bisa bekerja di perkebunan,” kata Anisa.

Kisah serupa ada di APRIL Group. Anak perusahaan RGE yang bergerak di sektor pulp dan kertas tersebut juga memegang tinggi prinsip profesionalitas dalam pengelolaan perusahaan.

Contoh konkret terkait salah seorang karyawannya yang berjulukan Lita Safriana. Ia bekerja sebagai pengemudi forklift di PT Riau Andalan Pulp & Paper (unit bisnis APRIL, Red.).

Sebelum ada Lita, pekerjaan ini hanya dilakukan oleh para lelaki. Namun, berkat Lita, pedoman tersebut berubah. Ia bisa menerangkan bahwa perempuan bisa bekerja sebaik laki-laki sebagai pengemudi forklift. Ia menunjukkan kiprah untuk mengangkut kertas dari tempat yang disebut flexi area ke gudang bisa dijalankannya dengan baik.

“Orang biasa berpikir pekerjaan ini untuk pria. Banyak kisah angker perihal bekerja di pabrik ibarat ini terutama perihal kecelakaan. Namun, sehabis menjalaninya di sini selama setahun lebih, saya berani menyampaikan kisah itu hanya mitos. Awalnya saya hanya merasa canggung alasannya ketika mengendarai forklift, pandangan mata semua orang ke saya. Tapi, sekarang dilirik pun tidak,” canda Lita kepada Jakarta Globe.

Kesempatan yang diberikan kepada Lita menunjukkan bahwa profesionalitas dihargai di RGE. Asalkan punya kapabilitas, siapa saja bisa mendapat kepercayaan.

PROFESIONALISME TANPA PANDANG BULU

RGE ketika ini masih dimiliki oleh Sukanto Tanoto. Namun, profesionalisme tetap diterapkannya. Bahkan, ke keluarganya yang ikut serta mengelola perusahaan.

Sumber: Wharton Magazine (http://whartonmagazine.com/issues/fall-winter-2017/the-business-family-imelda-tanoto-belinda-tanoto-anderson-tanoto/)

Bagi Sukanto Tanoto, kapabilitas lebih penting dibanding apa pun. Ikatan keluarga tidak serta-merta menciptakan anak atau kerabatnya eksklusif memegang posisi utama di RGE.

Ini dibuktikan oleh Sukanto Tanoto terhadap anak-anaknya. Mereka yang ingin berkarier di RGE harus mempunyai kapabilitas yang cukup. Selain itu, tidak ada perlakuan istimewa yang diberikan kepada mereka.

Perjalanan karier Anderson Tanoto misalnya. Usai menempuh perguruan tinggi tinggi, ia tidak eksklusif masuk ke RGE. Namun, bekerja dulu di perusahaan lain semoga bisa mendapat pelengkap ilmu.

Kala itu, Anderson Tanoto menentukan bekerja sebagai konsultan di Bain & Company untuk mendapat pengalaman kerja. Sesudahnya, ia gres bergabung dengan RGE.

Namun, alasannya prinsip profesionalisme dipegang kuat, di sana Anderson Tanoto tetap memulai karier dari bawah. Awalnya ia malah terjun eksklusif ke sentra produksi RGE di pabrik dan perkebunan.

Cerita serupa dialami oleh anak Sukanto Tanoto yang lain, Belinda Tanoto. Sebelum berkarya di RGE, ia menjadi seorang analis di Morgan Stanley. Namun, ia rela saja melakukannya alasannya menjadi bekal berharga baginya untuk berkarier di RGE.

“Di sana saya berguru banyak perihal cara menjalin korelasi dengan pemangku kepentingan di Tiongkok. Hal itu risikonya terbukti berkhasiat dan bisa diterapkan ketika menjadi tenaga pemasaran untuk bisnis keluarga di Shangdong, Tiongkok,” kata Belinda Tanoto.

Puteri lain Sukanto Tanoto, Imelda Tanoto, juga mendapat perlakuan serupa. Baginya yang bekerja di divisi Human Resources RGE, prinsip profesionalisme yang dijalankan dirasa sempurna demi kemajuan perusahaan.

“Karena telah menjadi cuilan dari perusahaan ini, kami tahu persis bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu. Kami harus memastikan bahwa ada orang yang untuk kiprah tertentu. Hal itu juga mesti dilakukan dengan sarana yang benar,” kata Imelda Tanoto.

Anderson Tanoto mempunyai pandangan yang tersendiri. Meski ketika ini ayahnya memegang kendali di RGE, bukan berarti perusahaannya harus memberi perlakuan Istimewa kepada keluarganya. Sebab, ia mengaku keluarganya tidak memandang RGE sebagai perusahaan keluarga. RGE yaitu perusahaan yang dikelola secara profesional oleh mereka yang punya kapabilitas.

Secara khusus, Anderson Tanoto malah ingin pihaknya dikenal sebagai pebisnis ulung. “Kami menyebut diri kami sebagai keluarga pebisnis, bukan pelaku bisnis keluarga,” ujarnya.

Hal ini yang risikonya bisa menciptakan RGE bisa berkembang dengan baik. Pasalnya, nilai-nilai profesionalisme dipegang secara teguh di sana.

“Hal tersebut tidak perihal mempunyai anggota keluarga yang menjalankan perusahaan. Namun perihal siapa orang yang terbaik dalam menjalankan perusahaan,” ucap Anderson Tanoto. “Kami tidak membedakan antara manajer profesional dengan anggota keluarga yang ada di dalam perusahaan. Semua terkait dengan kapabilitas dibanding dengan titel yang menempel belaka.”