Si Pitung, Legenda Betawi

Diposting pada 46 views
Image by: indogamers.com



Si Pitung, Legenda Betawi – Si Pitung merupakan seoran pendekar pencak silat dari Betawi. Si Pitung lahir di kawasan Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada ketika ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya berjulukan Bang Piung dan ibunya berjulukan Mpok Pinah. Pitung mendapatkan pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing). Seperti yang dikisahkan dalam film Si Pitung (1970).

Pada dasarnya ada tiga versi yang tersebar di masyarakat mengenai si Pitung yaitu versi Indonesia, Belanda, dan Cina. Masing-masing penutur versi kisah tersebut mempunyai versi yang berbeda dari kisah si Pitung itu sendiri. Apakah Si Pitung sebagai seorang pendekar menurut versi kisah Indonesia, dan sebagai seorang penjahat bila dilihat dari versi Belanda. 

Cerita Si Pitung ini dituturkan oleh masyarakat Indonesia sampai ketika ini dan menjadi bab lengenda serta warisan budaya Betawi khususnya dan Indonesia umumnya. Kisah Legenda Si Pitung ini adakala dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair, atau kisah Lenong. Menurut versi Koesasi (1992), Si Pitung diidentikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang shaleh, dan menjadi referensi suatu keadilan sosial.


Berikut ini yaitu kisah rakyat dari Si Pitung, ibarat dikutip dari Kumpulan Dongeng.

Si Pitung yaitu seorang perjaka yang soleh dari Rawa Belong. Ia rajin berguru mengaji pada Haji Naipin. Selesai berguru mengaji ia pun dilatih silat. Setelah bertahun- tahun kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat.

Pada waktu itu Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak.

Dengan dibantu oleh teman-temannya si Rais dan Jii, Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberikannya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya.

Kesuksesan si Pitung dan kawan-kawannya dikarenakan dua hal. Pertama, ia mempunyai ilmu silat yang tinggi serta dikhabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan dimana si Pitung sekarang berada. Namun demikian orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut.

Kumpeni juga memakai kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil menerima isu ihwal keluarga si Pitung. Maka merekapun menyandera kedua orang tuanya dan si Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat kesudahannya mereka mendapatkan isu ihwal dimana Si Pitung berada dan diam-diam kekebalan tubuhnya.

Berbekal semua isu itu, polisi kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun malangnya, isu ihwal diam-diam kekebalan badan Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur kedaluwarsa dan ditembak. Ia pun tewas seketika. Meskipun demikian untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil.


Terima kasih sudah membaca artikel ini. Mohon maaf bila banyak terdapat kekurangan ataupun kesalahan. Semoga bermanfaat.