Sejarah Blangkon

Diposting pada 45 views
 Blangkon yaitu tutup kepala yang dipakai oleh kaum laki-laki sebagai bab dari pakaian tr Sejarah Blangkon

You’ll Never Walk Alone – Blangkon yaitu tutup kepala yang dipakai oleh kaum laki-laki sebagai bab dari pakaian tradisional jawa. Blangkon bahwasanya bentuk mudah dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibentuk dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang sanggup menjelaskan asal mula laki-laki jawa menggunakan ikat kepala atau epilog kepala ini.


ada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu dongeng ihwal Aji Soko. Dalam dongeng ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu ketika Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar homogen sorban yang sanggup menutup seluruh tanah Jawa. Padahal ibarat kita ketahui , Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941 tahun yang lalu.


Ada sejumlah teori yang menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan dampak dari, budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis yaitu keturuan cina dari Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini yaitu orang keturunan Arab, mereka selalu mengenakan sorban, yaitu kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala mereka. Sorban inilah yang meng-inspirasi orang jawa untuk menggunakan iket kepala ibarat halnya orang keturunan arab tersebut.

Ada teori lain yang berasal dari para sesepuh yang menyampaikan bahwa pada jaman dahulu, iket kepala tidaklah permanen ibarat sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akhir perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat. Oleh alasannya yaitu itu , para petinggi keraton meminta seniman untuk membuat ikat kepala yang menggunakan separoh dari biasanya untuk efisiensi Maka terciptalah bentuk epilog kepala yang permanen dengan kain yang lebih irit yang disebut blangkon.

Pada jaman dahulu, blangkon memang hanya sanggup dibentuk oleh para seniman andal dengan pakem (aturan) yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya. Seorang andal kebudayaan berjulukan Becker pernah meneliti tata cara pembuatan Blangkon ini, ternyata pembuatan blangkon memerlukan satu keahlian yang disebut “virtuso skill”. Menurut nya : “That an object is useful, that it required virtuso skill to make –neither of these precludes it from also thought beatiful. Some craft generete from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriete aesthetic standards and common of taste”.

Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari pemenuhan terhadap pakem juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan standard cita rasa serta ketentuan- ketentuan yang sudah menjadi standar sosial. Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya. Seperti yang diungkapkan oleh Becker sebagai berikut: “By accepting beauty as a criterion, participants in craft activities on a concern characteristic of the folk definition of art. That definition includes an emphasis on beauty as typified in the tradition of some particular art, on the traditions and conserns of the art world itself as the source of value, on expression of someone’s thoughts and feelings, and on the relative freedom of artist from outside interference with the work”.

Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan bahwasanya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari indera pendengaran kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar. Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bab belakang blangkon yang berbentuk ibarat Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya Yogyakarta. Tonjolan ini membuktikan model rambut laki-laki masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bab belakang kepala, sehingga bab tersebut tersembul di bab belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang agar tidak gampang lepas.

Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul lantaran kebanyakan laki-laki kini berambut pendek. Model trepes ini dibentuk dengan cara menjahit eksklusif mondholan pada bab belakang blangkon. Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang menggunakan iket kepala yang ibarat dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda.