Pemanfaatan Sains Dalam Perusahaan Sukanto Tanoto

Diposting pada 20 views

Sains menjadi aspek penting dalam kesuksesan pengusaha Sukanto Tanoto. Pendiri Royal Golden Eagle (RGE) ini membuka selebar-lebarnya pendekatan ilmiah untuk peningkatan produktivitas. Selama ini Sukanto Tanoto dikenal sebagai pebisnis papan atas. Chairman RGE ini bisa mengembangkan perusahaannya dari skala lokal menjadi pemain besar di tingkat global.

Foto: Asian Agri

Cakupan bisnis utama Sukanto Tanoto yakni bidang sumber daya alam. RGE mempunyai belum dewasa perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta pengembangan energi.

Sekarang aset RGE diperkirakan telah mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka juga mempunyai cabang yang beroperasi di aneka macam wilayah mancanegara mulai dari Singapura, Malaysia, Filipina, Tiongkok, Brasil, serta Kanada. Berkat hal itu pula perusahaan Sukanto Tanoto tersebut bisa membuka lapangan kerja untuk 60 ribu orang.

Melihat profil Sukanto Tanoto mentereng sebagai pebisnis, publik niscaya akan merujuk kepada kejeliannya mengendus peluang usaha. Hal itu tepat. Namun, kesuksesan laki-laki kelahiran Belawan tersebut juga tak lepas dari kemauannya untuk membuka diri terhadap perkembangan teknologi.

Di dalam RGE, sains menjadi faktor penting. Pendekatan ilmiah diterima dan dijalankan dengan baik di sana. Hal tersebut dilakukan demi peningkatan produksi.

Sains sangat dibutuhkan lantaran RGE menjalankan praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan. Dalam industri kelapa sawit yang dijalankan oleh salah satu perusahaannya, Asian Agri, misalnya. Untuk mendapat materi baku, Asian Agri mengelola perkebunan. Luasnya mencapai 160 ribu hektare yang 60 ribu di antaranya dikelola oleh para petani plasma yang menjadi mitra.

Asian Agri tidak membuka lahan gres untuk menciptakan perkebunan baru. Mereka hanya memaksimalkan perkebunan yang sudah dimiliki untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Berkat itu, mereka bisa menghasilkan 1 juta ton minyak kelapa sawit per tahun.

Agar hasil perkebunan bisa maksimal, sains menjadi faktor penting. Asian Agri menyerahkannya kepada tim riset dan pengembangannya yang dinamai sebagai departemen Asian Agri R&D Centre.

Oleh Asian Agri, divisi riset dan pengembangan diberi dukungan besar. Mereka mempunyai unit riset yang berlokasi di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Didirikan semenjak 1989, unit riset ini berkhasiat menjadi sentra penelitian praktik budidaya kelapa sawit.

Awalnya tim AA R&D Centre hanya mempunyai tujuh orang anggota. Namun, untuk memperkuat pemanfaatan sains di Asian Agri, personel telah bertambah menjadi 46 staf dan 120 teknisi.

Mereka semua mempunyai bidang kepakaran berbeda-beda. Staf AA R&D Centre berasal dari ilmu Agronomi, Tanah, Hama, Penyakit, Breeding, Bioteknologi. Tingkat pendidikannya juga mulai dari S1, S2, sampai S3 dari perguruan tinggi tinggi dalam dan luar negeri.

Kombinasi tim yang solid tersebut menghadirkan tim yang kompeten. Tidak mengherankan, banyak manfaat yang dipetik Asian Agri dari keberadaan AA R&D Centre.

Hal yang paling mencolok yakni kemampuan menghadirkan bibit kelapa sawit berkualitas. Patut diketahui, hibrida merupakan kunci kesuksesan perkebunan kelapa sawit. Pasalnya, sekali ditanam, pohon kelapa sawit gres bisa diganti ulang dalam 20 sampai 25 tahun sekali. Akibatnya, dibutuhkan bibit yang bisa mendukung hasil yang optimal.

Tim AA R&D jadinya bisa melahirkan hibrida yang dinamai Topaz. Mereka bahkan bisa melepasnya ke publik pada 2004 sehabis mendapat SK dari Menteri Pertanian.

Topaz dihasilkan dari penelitian panjang serta rekayasa genetika yang dilakukan oleh AA R&D selama sekian lama. Hasilnya yakni bibit yang menghasilkan kelapa sawit yang produktif.

Ketika ditanam, bibit Topaz akan menghasilkan kelapa sawit dengan tandan buah segar besar dan minyak yang tinggi. Selain itu, hasil produksi Topaz sudah tinggi semenjak panen pertama. Kelebihan itu masih ditambah dengan karakteristik tanaman yang tumbuh tinggi lebih lambat dan bisa mengikuti keadaan di bermacam-macam jenis tanah.

Sadar akan bermacam-macam keunggulan tersebut, Asian Agri menanam bibit Topaz di perkebunannya. Mereka juga menyebarkannya ke para petani plasma serta petani swadaya yang menjadi mitra.

“Bahkan demi meningkatkan produktivitas, Asian Agri terus berfokus pada intensifikasi dan terus mengembangkan Research & Development bibit kelapa sawit yang sanggup menghasilkan produk minyak kelapa sawit yang tinggi,” kata Ang Boon Beng, Topaz Seeds Senior Breeder Asian Agri kepada Presiden Joko Widodo menyerupai dilaporkan oleh Perkebunan News.

Pengendalian Hama

Selain menghasilkan bibit unggul, pendekatan sains di Asian Agri juga berkhasiat dalam pengelolaan perkebunan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini juga memanfaatkan hasil pekerjaan AA R&D Centre dalam penanganan hama.

Foto: Asian Agri

AA R&D memang mempunyai sejumlah solusi untuk pengendalian hama. Mereka menghasilkan biocontrol agent menyerupai Trichoderma untuk pengendalian penyakit yang disebabkan oleh Ganoderma. Selain itu, ada Metharizium untuk pengendalian hama kumbang tanduk (Oryctes), dan racun tikus.

Akan tetapi, berbeda dengan pemanfaatan Topaz, Asian Agri belum membukanya untuk publik. Beragam biocontrol agent tersebut masih dipakai secara internal di perkebunan-perkebunan Asian Agri.

Hal itu pula yang menjadi kunci kesuksesan produksi Asian Agri. Perkebunannya bisa dikelola dengan konsep terbarukan dan terus menghasilkan kelapa sawit yang tinggi.

“Maka pada kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengedukasi dan mempromosikan kelapa sawit Indonesia yang lestari, berwawasan lingkungan, dan membangun kemitraan dengan para petani,” kata Bernard Riedo, Head of Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri menjawab seruan Presiden Joko Widodo untuk membantu peningkatan produksi petani.

Selain hibrida dan penanganan hama, AA R&D Centre juga memberi dukungan kepada publik lewat laboratorium analitik. Siapa saja bisa memanfaatkannya untuk mendapat analisis mendalam mengenai sebuah objek yang diteliti.

AA R&D Centre juga aktif memperlihatkan layanan teknis dan training untuk meningkatkan pengetahuan, kepedulian (awareness) dan keterampilan dalam menerapkan paket teknologi. Semuanya bisa dipakai untuk menghasilkan panen kelapa sawit yang tinggi.

Pemanfaatan sains di badan Asian Agri sangat bermanfaat dalam produktivitas perusahaan. Hal itu bukanlah pencapaian gres di badan RGE. Ada perusahaan Sukanto Tanoto lain yang juga melaksanakan pendekatan serupa.

Contohnya yakni Grup APRIL. Perusahaan yang bergerak dalam industri pulp dan kertas ini juga memaksimalkan tim riset dan pengembangannya untuk memaksimalkan proses produksi.

Dalam pembuatan pulp dan kertas, APRIL membutuhkan materi baku dari kayu. Sama menyerupai Asian Agri, mereka juga mengelola perkebunan sendiri untuk mendapat kayu. Perusahaan Sukanto Tanoto ini menanam pohon akasia di daerah konsesinya.

Peran penting sains terlihat konkret dalam praktik pengelolaan perkebunan APRIL. Berkat tim R&D, hasil perkebunan akasia APRIL terus meningkat. Sebagai gambaran, pada 1996, setiap satu hektare lahan perkebunan hanya menghasilkan kayu sebanyak 22 meter kubik. Namun, penelitian silvikultur tim R&D APRIL bisa mendorong peningkatan produksi. Pada 2010, hasil perkebunan melonjak menjadi 32 meter kubik per hektare. Pencapaian itu belum menciptakan APRIL puas. Mereka masih mengejar sasaran semoga setiap hektare lahan bisa menghasilkan 35 meter kubik. Targetnya hasil produksi tersebut sudah bisa dinikmati pada 2020.

Lagi-lagi bukti konkret pemanfaatan sains terlihat jelas. Berkat praktik riset dan pengembangan, perusahaan Sukanto Tanoto bisa mendapat hasil produksi yang tinggi.