Komitmen Sukanto Tanoto Terhadap Pemberian Lingkungan

Diposting pada 39 views

Pandangan Sukanto Tanoto mengenai lingkungan patut ditiru oleh para pengusaha lain. Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle ini menilai alam justru perlu dilindungi. Selain demi kelangsungan masa depan manusia, hal itu ternyata penting bagi bisnis.

Pemikiran Sukanto Tanoto patut diperhatikan. Sebagai pengusaha yang piawai memanfaatkan sumber daya alam sebagai produk bernilai tinggi, ia paham betul arti kelestarian lingkungan. Pria kelahiran Belawan pada 25 Desember 1949 ini justru memandang bisnis amat terbantu jikalau alam terus lestari.

Sukanto Tanoto berani menyampaikan hal tersebut lantaran terjun pribadi ke dalam bermacam-macam industri berbasis pemanfaatan sumber daya alam. Bersama Royal Golden Eagle, ia menekuni bisnis kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta pengembangan energi.

Dalam operasional perusahaan, kelestarian alam memegang tugas penting. Pasalnya, materi baku untuk bermacam-macam produknya di Royal Golden Eagle tergantung terhadap hasil alam.

Royal Golden Eagle mempunyai perkebunan yang dijalankan dengan konsep terbarukan. Perkebunan itu dijadikan sumber materi baku utama bermacam-macam produk-produknya.

Memelihara tanaman amat tergantung terhadap kondisi alam. Jika cuaca tidak dekat atau ekosistem rusak lantaran kelestarian lingkungan diabaikan, perkebunan akan terkena dampaknya. Paling gampang mereka bisa gagal panen atau terkena serangan hama yang parah.

Oleh lantaran itu, bisnis berbasis sumber daya alam amat berkepentingan terhadap kelestarian lingkungan. Jika kondisi alam terus baik, mereka akan menikmati buahnya. Atas dasar inilah, Sukanto Tanoto begitu serius berkomitmen dalam pinjaman lingkungan.

“Saya selalu percaya bahwa pinjaman lingkungan seharusnya tidak menjadi beban bagi perusahaan, tapi justru menjadi sebuah sumber daya yang kaya bagi perusahaan sepanjang hal itu dilakukan dengan sikap yang baik dan komprehensif. Saya akan mengeluarkan uang untuk perlindungan lingkungan, serta melaksanakan riset dan mengkajinya,” kata Sukanto Tanoto.

Ucapannya dibuktikan secara positif dengan menelurkan filosofi kerja 5C di dalam Royal Golden Eagle. Melalui prinsip kerja 5C itu, ia bermaksud memberi instruksi dalam operasional seluruh perusahaan yang berada di bawah naungan RGE. Karena kelestarian alam sangat penting, Sukanto Tanoto memasukkan prinsip Good for Climate sebagai salah satu bagiannya.

Prinsip itu bisa diartikan sebagai kewajiban bagi semua perusahaan di dalam Royal Golden Eagle untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hal itu harus terwujud positif dalam semua operasi perusahaan sehari-hari.

Arahan ini karenanya menciptakan Royal Golden Eagle berubah menjadi perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Banyak pola positif yang bisa dikedepankan.

Di badan APRIL Group misalnya. Anak perusahaan Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri pulp dan kertas ini punya solusi jitu terhadap limbah. Daripada limbah merusak alam, APRIL berupaya mengubahnya menjadi energi listrik.

Mereka melakukannya dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas. APRIL memanfaatkan salah satu hasil buangan proses pembuatan pulp dan kertas yang disebut lindi hitam. Lewat sebuah ketel uap pemulihan raksasa, mereka bisa mengubahnya menjadi energi listrik.

Selain lindi hitam, APRIL juga bisa memanfaatkan kulit kayu terbuang selama proses pencucian kayu menjadi listrik. Akhirnya energi yang diperoleh itu bisa dipakai untuk menjalankan operasional perusahaan.

Hal ini terperinci sangat berkhasiat bagi kelestarian lingkungan. Bagaimana tidak, energi listrik biogas jauh lebih ramah terhadap alam. Akibatnya sekarang komposisi penggunaan energi dari fosil di badan APRIL tinggal 15 persen. Sebanyak 85 persen sisanya telah memakai energi listrik dari biogas.

Lebih andal lagi, APRIL bisa membantu masyarakat berkat pendirian pembangkit listriknya. Per tahun, APRIL mampu menghasilkan listrik setara dengan 390 MW. Namun, sisa dua persennya atau sekitar 10 MW justru mereka salurkan ke masyarakat terutama di Pangkalan Kerinci yang menjadi basisnya.

Akibatnya, bukan hanya APRIL yang menikmati buah kehadiran pembangkit listrik biogas tersebut. Masyarakat juga turut memperoleh imbas positifnya.

Bukan hanya APRIL yang melaksanakan pinjaman lingkungan, anak perusahaan RGE lain juga menjalankan aktivitas serupa. Apical misalnya. Perusahaan yang bergerak dalam pemrosesan minyak kelapa sawit ini juga turut aktif menjaga kelestarian alam. Salah satu cara yang dilakukan ialah melacak sumber materi baku yang diperolehnya.

Apical mewajibkan penyuplai materi baku mengelola perkebunan kelapa sawit dengan konsep terbarukan. Tidak boleh ada pembakaran hutan untuk membuka lahan baru. Selain itu, pemanfaatan obat-obatan kimia untuk merawat kebun juga diminimalkan.

Dengan hukum tersebut, Apical bermaksud menanamkan kesadaran arti penting kelestarian lingkungan di kalangan para petani. Hasil yang didapat ialah sejumlah sertifikasi tanda praktik berkelanjutan di badan perusahaan dikantungi Apical. Beragam sertifikasi tersebut ialah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), International Sustainability & Carbon Certification (ISCC), serta Sustainability Assurance System (SAS).

PENDIRIAN TANOTO FORESTRY INFORMATION CENTER

Komitmen Sukanto Tanoto dalam pinjaman lingkungan tak hanya diwujudkan dalam bermacam-macam kegiatan di Royal Golden Eagle. Ia juga mengampanyekan kepeduliannya terhadap alam kepada publik.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh Sukanto Tanoto ialah mendirikan Tanoto Forestry Information Center (TFIC) pada 2015. Melalui yayasan sosial yang didirikannya, Tanoto Foundation, ia mengagas pendirian TFIC di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Adapun tujuan pendiriannya ialah pinjaman terhadap hutan sekaligus pemanfaatan potensinya yang besar. Sukanto Tanoto melakukannya lantaran sadar arti penting hutan.

Indonesia dikaruniai hutan yang luas. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik per Februari 2017, hutan di negeri kita mencapai 126 juta hektare. Namun, luas itu akan terus menerus turun jikalau tidak dijaga. Pasalnya, laju deforestasi di Indonesia sangat tinggi. Per tahun setidaknya 450 ribu hektare hutan menghilang.

Kondisi ini sudah usang disadari oleh Sukanto Tanoto. Maka, TFIC ia gagas sebagai solusi. Ia berharap pemanfaatan kegiatan ilmiah akan bisa menjaga kelestarian hutan sembari tetap mengoptimalkan potensinya ekonominya yang besar.

“Semoga sentra gosip ini bermanfaat untuk dunia pendidikan dan pelaku sektor kehutanan serta memperlihatkan kebaikan bagi masyarakat umum dan Indonesia. Apa yang kita buat harus baik untuk komunitas, masyarakat, dan harus bermanfaat untuk negara dan masyarakat. Dari awal, tujuan utama Tanoto Foundation ialah memang untuk merampungkan kemiskinan melalui pendidikan,” kata Sukanto Tanoto.

Di dalam TFIC terdapat bermacam-macam jurnal ilmiah mengenai hutan. Di sana juga tersedia bermacam-macam panel gosip kehutanan. Keberadaannya diperlukan akan meningkatkan gairah riset perihal hutan di Indonesia. Oleh lantaran itu, IPB diperlukan membuka kerja sama dengan perguruan tinggi tinggi lain di Indonesia maupun luar negeri untuk mengoptimalkan TFIC.

“TFIC diperlukan bisa menjadi hub bagi networking dan kerja sama IPB dengan universitas lain dan forum riset dunia, serta pelaku dalam bidang kehutanan nasional maupun internasional. TFIC akan menyediakan gosip kehutanan, jurnal-jurnal elektronik, serta akan mendukung penelitian kehutanan di dalam dan luar negeri,” ujar Sukanto Tanoto.

Dengan langkah ini, Sukanto Tanoto berharap hutan di Indonesia akan terus lestari. Jika itu terjadi, misinya untuk melindungi lingkungan akan tercapai.