Kisah Pilu Ir. Soekarno

Diposting pada 21 views
You’ll Never Walk Alone – Semua ajun menangis dikala tau Bung Karno mau pergi “Kenapa bapak tidak melawan”
Taklama sehabis mosi tidak percaya dewan legislatif bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno mendapatkan surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak dekat lagi. “Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!”.
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. “Mana kakak-kakakmu”kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata “Merekapergi ke rumah Ibu”. Rumah Ibu yang dimaksud yaitu rumah Fatmawati diJalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi “Mas Guruh,Bapak dilarang lagi tinggal di Istana ini lagi, kau persiapkanbarang-barangmu, jangan kau ambil lukisan atau hal lain, itu punyanegara”. Kata Bung Karno, kemudian Bung Karno melangkah ke arah ruang tamuIstana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia.
Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia maklum, ajun itu sudahditangkapi sebab diduga terlibat Gestapu. “Aku sudah tidak bolehtinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun,
Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara. melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan…” Salah satu ajun separuh berteriak memprotes tindakan membisu Bung Karno. “Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda terang hidungnya beda dengan hidung kita.
Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan
wajahmu…keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara”. Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian dikala mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. “Pak kau memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak lezat bila bapak pergi, belum makan.kami patungan dari uang kami untuk masak agak lezat dari biasanya”. Bung Karno tertawa “Ah, sudahlah sayur lodeh bau tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa…”
Di hari kedua
Saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya tiba perwira suruhan
Orde Baru. “Pak, Bapak harus segera meninggalkan kawasan ini”. Beberapa
tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar hingga ke ruang makan.
Mereka juga bangkit di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung
Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung
Karno yang ia takutkan yaitu bendera pusaka akan diambil oleh tentara.
Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran
bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno bangkit sebentar
menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong badan Bung
Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Saelan dan
Bung Karno menoleh ke arah Saelan. “Aku pergi dulu” kata Bung Karno
dengan terburu-buru. “Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak” Saelan
separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno
langsung naik VW Kodok, satu-satunya kendaraan beroda empat pribadi yang ia punya dan
meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan
halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati.
Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah
namun obat yang biasanya diberikan sudah dilarang diberikan. Sisa
obat di Istana dibuangi. Suatu dikala Bung Karno mengajak ajudannya yang
bernama Nitri untuk jalan-jalan. 

Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi ia tidak punya uang. “Aku pengen duku, …Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang” Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri
mendatangi tukang duku dan berkata “Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil”. 

Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. “Mau pilih mana, Pak manis-manis nih ” sahut tukang duku dengan
logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata “coba
kamu cari yang enak”. 

Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan bunyi ini. Lantas tukang duku itu berteriak “Bapak…Bapak….Bapak…Itu Bapak…Bapaak” Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan” Ada Pak Karno, Ada Pak Karno….”
mereka berlarian ke arah kendaraan beroda empat VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memperlihatkan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya

Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi
keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang
tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan
dirinya. “Tri, berangkat ….cepat” perintah Bung Karno dan ia melambaikan
ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada
yang hingga menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan
susah.
Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan
Sriwijaya, menciptakan beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba
satu malam ada satu tuk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung
Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!…
Taklama sehabis Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia
melihat ayahnya dan menangis keras-keras dikala tau wajah ayahnya
bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno
berdiri kemudian terhuyung dan jatuh.
Ia merangkak dan memegang kursi.
Rachmawati pribadi teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada
Bapaknya biar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. “Coba aku
tulis surat permohonan kepada Presiden” kata Bung Karno dengan suara
terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat biar dirinya
bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati
adalah puteri Bung Karno yang paling nekad. Pagi-pagi sehabis mengambil
surat dari bapaknya, Rachma pribadi ke Cendana rumah Suharto. 
Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget dikala melihat Rachma ada di teras
rumahnya. “Lhol, Mbak Rachma ada apa?” tanya Bu Tien dengan nada kaget.
Bu Tien memeluk Rachma, sehabis itu Rachma bercerita wacana nasib
bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggemgam tangan Rachma lalu
dengan menggemgam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak
Harto. “Lho, Mbak Rachma..ada apa?” kata Pak Harto dengan nada santun.
Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di
Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang
memerintahkan anak buahnya biar Bung Karno dibawa ke Djakarta.
Diputuskan Bung Karno akan dirawat di Wisma Yaso.
Bung Karno kemudian dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras.
Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali
ia dibentak bila akan melaksanakan sesuatu, suatu dikala Bung Karno tanpa
sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu
langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno awut-awutan sekali,
jorok dan bau. Memang ada yang merapihkan tapi tidak serius. Dokter yang
diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis
karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang sanggup dipakai Bung
Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas
perintah seorang Perwira Tinggi. 
Mahar hanya sanggup memperlihatkan Vitamin dan Royal Jelly yang bersama-sama hanya madu biasa. Jika tak bisa tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit tanggapan ginjalnya tidak berfungsi.

Banyak rumorberedar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso,beberapa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada
satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut sebab itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno tiba ke rumah Fatmawati untuk
menghadiri komitmen nikah Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah
datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. Ketika
tau Bung Karno tiba ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung
berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka
berteriak “Hidup Bung Karno….hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno…!!!!!”
Sukarno yang reflek sebab ia mengenal benar gegap gempita ibarat ini,
ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan bernafsu tentara menurunkan
tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham ia adalah
tahanan politik.
Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak berpengaruh berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang sanggup masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak ” Sakit….Sakit ya Allah…Sakit…” tapi tentara pengawal diam saja sebab diperintahkan begitu oleh komandan. 
Sampai-sampai ada satu tentara di depan kamar. Kepentingan politik tak sanggup memendung rasa kemanusiaan, dan air
mata yaitu bahasa paling terang dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan
mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu ia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. 

“Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” Hatta menoleh pada isterinya dan berkata “Sukarno yaitu orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah
tapi saya tak tahan mendengar info Sukarno disakiti ibarat ini”. Hatta
menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno,
ajaibnya surat Hatta pribadi disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung
Karno.
Hatta tiba sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah
hampir tidak sadar, tubuhnya tidak berpengaruh menahan sakit ginjal. Bung Karno
membuka matanya. Hatta bengong dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu,
No kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata
pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” kata Bung Karno dalam bahasa Belanda – Bagaimana pula kabarmu, Hatta –Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti
anak kecil. 

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang
bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan
bangsa ini di tamat hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang
menyesakkan dada.
Tak usang sehabis Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama dikala Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, dikala kematiannya-pun Bung Karno jugakesalahan ibarat ini lagi
seolah menunggu Hatta dulu, gres ia berangkat menemui Tuhan.
Mendengar janjkematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer bangkit di jalan.
Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang isinya hanya
orang menangis sebab Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan
agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno
ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap, tapi sejarah akan kenangan
tidak sanggup dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. 

Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat mayat Bung Karno, di pinggir jalan Gatot Subroto banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara
yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno menolak dengan hanya
duduk-duduk di pinggir jalan, mereka diusiri tapi tiba lagi. Tau sikap
rakyat ibarat itu tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan
di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang yang rajin menulis
catatan hariannya niscaya mencatat tanggal itu sebagai tanggal
meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih. Koran-koran yang isinya hanya
menjelek-jelekkan Bung Karno sontak tulisannya memuja Bung Karno.
Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak
diperlakukan dengan secara manusiawi. Mendapatkan keagungan yang luar
biasa dikala ia meninggal. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, mereka melambai-lambaikan tangan dan menangis. Mereka bangkit kepanasan, berdiri dengan rasa cinta bukan sebuah keterpaksaan. Dan sejarah
menjadi saksi bagaimana sebuah memperlakukan orang yang kalah, walaupun
orang yang kalah itu yaitu orang yang memerdekakan bangsanya, orang
yang menjadi alasan terbesar mengapa Indonesia harus berdiri, Tapi dia
diperlakukan layaknya binatang terbuang, semoga kita tidak mengulangi.
” “A.G.A” sobat ku sekalian, di sini kita gak usah menghujat soharto, namun kisah ini jd kan pelajaran dan cerminan diri kita masing2, bagai mana seorang soekarno dengan jiwa besar nya rela mengalah, menderita dan tercabik-cabik, demi persatuan dan keutuhan NKRI”
beda sekali sama beberapa tokoh politik yang gak mau kalah, malah mengadu dombak masyarakat, hingga terjadi perpecahan dan konflik hanya gara gara politik yang kalah gak terima.
Andai kan dulu soekarno melawan, maka ada asing yang tertawa dengan tak tik memecah-belah ini, INDONESIA akan pecah ibarat korea.
yang satu di dukung rusia, yang satu di dukung amerika.
namun jiwa besar bung karno lah yang tak mau di dikte n tergoda permainan asing, hingga dikala ini KITA ADALAH NKRI UNTUK SELAMA DAN HARI KIAMAT TIBA.