Kisah Keberanian Soekarno Melawan Diskriminasi Di Sekolah

Diposting pada 12 views

Foto: Kisah keberanian Soekarno melawan diskriminasi di sekolah   ^Nando follow : @SunanditaF   Mahkamah Konstitusi (MK) membubarkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) alasannya yaitu dinilai menimbulkan diskriminasi pendidikan. RSBI/SBI merupakan sekolah mahal dengan kemudahan khusus. Hanya anak orang kaya yang sanggup bersekolah di sini alasannya yaitu biaya sekolahnya mencapai belasan juta per tahun. Disebut juga sekolah unggulan alasannya yaitu aneka macam fasilitasnya di atas sekolah reguler.  Diskriminasi sangat dibenci Presiden pertama Indonesia Soekarno. Termasuk diskriminasi di bidang pendidikan. Soekarno dulu mati-matian melawan diskriminasi ketika bersekolah di Hoogere Burger School, Surabaya. HBS yaitu pendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas.  Di sana terperinci terasa diskriminasi bagi siswa pribumi atau inlander. Hanya kalangan darah biru dengan otak yang encer sanggup sekolah di HBS. Soekarno yang bukan berasal dari keluarga kaya pun ngos-ngosan.  "Memang tidak murah bagi seorang inlander untuk sanggup bersekolah di HBS. Di samping harus membayar 15 rupiah setiap bulan untuk uang sekolah dan pet seragam bertuliskan HBS, kami juga harus mengeluarkan lagi 75 rupiah setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul jumlah ini, alasannya yaitu saya menghitung setiap rupiahnya dan menjaganya jangan ada lagi yang terpakai untuk hal yang tidak perlu," kata Soekarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams.  Dari 300 siswa HBS Surabaya, hanya ada 20 anak pribumi. Soekarno pun tak punya banyak sobat di sekolah. Dia sering laga dengan belum dewasa Belanda.  Diskriminasi juga terasa dalam nilai dan sistem pengajaran. Hampir tak mungkin siswa pribumi diganjar nilai 10. Hanya belum dewasa Belanda yang boleh mendapatkannya.  "Kami berusaha berguru dengan keras, tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai yang diperoleh belum dewasa Belanda tetap lebih tinggi," kata Soekarno kecewa.  Bukan Soekarno jikalau tidak melawan. Setiap hari melihat tokoh pergerakan HOS Cokroaminoto menciptakan nasionalisme Soekarno muda selalu mendidih. Soekarno terus memberikan ketidaksukaannya terhadap diskriminasi dan kolonialisme.  "Belanda berkulit putih. Kita sawo matang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilometer dari sini. Makara mengapa kita harus bicara bahasa Belanda?" protes Soekarno.  Melihat citra di atas, tentu Soekarno juga tidak akan oke adanya diskriminasi pendidikan di Indonesia. Soekarno pun tak akan sudi melihat pendidikan tak sanggup dinikmati oleh rakyat miskin.
You’ll Never Walk Alone – Mahkamah Konstitusi (MK) membubarkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) alasannya yaitu dinilai menimbulkan diskriminasi pendidikan. RSBI/SBI merupakan sekolah mahal dengan kemudahan khusus. Hanya anak orang kaya yang sanggup bersekolah di sini alasannya yaitu biaya sekolahnya mencapai belasan juta per tahun. Disebut juga sekolah unggulan alasannya yaitu aneka macam fasilitasnya di atas sekolah reguler.

Diskriminasi sangat dibenci Presiden pertama Indonesia Soekarno. Termasuk diskriminasi di bidang pendidikan. Soekarno dulu mati-matian melawan diskriminasi ketika bersekolah di Hoogere Burger School, Surabaya. HBS yaitu pendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas.

Di sana terperinci terasa diskriminasi bagi siswa pribumi atau inlander. Hanya kalangan darah biru dengan otak yang encer sanggup sekolah di HBS. Soekarno yang bukan berasal dari keluarga kaya pun ngos-ngosan.

“Memang tidak murah bagi seorang inlander untuk sanggup bersekolah di HBS. Di samping harus membayar 15 rupiah setiap bulan untuk uang sekolah dan pet seragam bertuliskan HBS, kami juga harus mengeluarkan lagi 75 rupiah setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul jumlah ini, alasannya yaitu saya menghitung setiap rupiahnya dan menjaganya jangan ada lagi yang terpakai untuk hal yang tidak perlu,” kata Soekarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams.

Dari 300 siswa HBS Surabaya, hanya ada 20 anak pribumi. Soekarno pun tak punya banyak sobat di sekolah. Dia sering laga dengan belum dewasa Belanda.

Diskriminasi juga terasa dalam nilai dan sistem pengajaran. Hampir tak mungkin siswa pribumi diganjar nilai 10. Hanya belum dewasa Belanda yang boleh mendapatkannya.

“Kami berusaha berguru dengan keras, tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai yang diperoleh belum dewasa Belanda tetap lebih tinggi,” kata Soekarno kecewa.

Bukan Soekarno jikalau tidak melawan. Setiap hari melihat tokoh pergerakan HOS Cokroaminoto menciptakan nasionalisme Soekarno muda selalu mendidih. Soekarno terus memberikan ketidaksukaannya terhadap diskriminasi dan kolonialisme.

“Belanda berkulit putih. Kita sawo matang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilometer dari sini. Makara mengapa kita harus bicara bahasa Belanda?” protes Soekarno.

Melihat citra di atas, tentu Soekarno juga tidak akan oke adanya diskriminasi pendidikan di Indonesia. Soekarno pun tak akan sudi melihat pendidikan tak sanggup dinikmati oleh rakyat miskin.



Nah, itulah keberanian Soekarno melawan diskriminasi sekolah ibarat dikutip dari merdeka.com. Terima kasih sudah membaca artikel wacana “Kisah Keberanian Soekarno Melawan Diskriminasi di Sekolah”. Mohon maaf bila banyak kekurangan. Semoga bermanfaat.