Kisah Kasman Singodimedjo (Pahlawan)

Diposting pada 38 views
ll Never Walk Alone akan menyebarkan isu mengenai dongeng Kasman Singodimedjo ibarat diku Kisah Kasman Singodimedjo (Pahlawan)

Hai sobat, kali ini You’ll Never Walk Alone akan menyebarkan isu mengenai dongeng Kasman Singodimedjo ibarat dikutip dari Unissula.ac.id
 

Menurut Rektor Unissula Prof Dr Laode Masihu Kamaluddin nilai nilai kepahlawanan Prof Kasman Singodimedjo sangat penting untuk diangkat kembali sebagai obor usaha bangsa Indonesia di kurun modern ini.

Dahulu nama itu dikenal alasannya yaitu perjuangannya memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia Ketua KNIP pertama yang kini mempunyai fungsi ibarat dewan perwakilan rakyat RI, pernah menjabat juga sebagai Ketua BPUPKI, Jaksa Agung, Kepala Kehakiman Militer, dan Menteri Muda Kehakiman.

Jendral Purn A H Nasution pernah menuturkan Prof Kasman Singodimejo juga termasuk salah satu dari tiga serangkai yang memimpin garis koordinasi militer masa kemerdekaan bersama Otto Iskandar Dinata dan Letkol. Supriyadi. Namun dia lebih dikenal oleh pejuang kemerdekaan lain alasannya yaitu keberanian dan orasinya yang ibarat singa di meja podium. Hingga Mohammad Roem menggambarkan perihal beliau, “Namanya memang Singodimejo, kenyataannya dia singa di mana-mana”.

Putra kelahiran bumi Purworejo, 25 Februari 1908 itu selalu teguh memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Karena hal itu dia hingga pernah ditahan hingga empat kali oleh pemerintahan berkuasa.

Suatu kali dalam salah satu masa tahanannya dia pernah diintimidasi oleh penyidik untuk mengakui mengadakan rapat gelap gerakan makar, padahal dia tidak melakukannya. Seorang kawannya berjulukan Nasuhi sebelumnya telah dipaksa menandatangani pernyataan palsu menyetujui tuduhan itu. Ketika penyidik mulai menggertak dan Prof. Kasman terus ditekan, menggelegarlah suaranya. 

Beliau berdiri, kursinya dibuang jauh ke belakang, tangannya diangkat kemudian berteriak lantang, “Nah, itulah tuan-tuan keadaan yang sebenarnya. Saya sebagai bekas Jaksa Agung, bekas kepala Kehakiman Militer, bekas Menteri Muda Kehakiman, tahu persis semua ini tidak syah! Percuma investigasi semacam ini! Silakan tuan-tuan cabut pistol. Tembak saya! Tembak! Tembak!” Demikianlah keberanian Prof. Kasman mempertahankan kebenaran, alhasil penyidik itu mundur.

Keteguhan memegang nilai-nilai moralitas selalu menjadi ciri khas dia di mana pun berada. Luqman Hakiem dalam peringatan 100 tahun Mohammad Natsir, bahkan memberi catatan bahwa Prof Kasman, bersama dengan Natsir dan Mohammad Roem ialah tokoh yang sama sekali tidak mempunyai cacat aturan maupun cacat moral. Sebuah keteladanan yang semakin langka di masa sekarang.

Namun ironisnya nama dan usaha Prof Kasman lambat laun semakin dilupakan dan bertahap mulai kabur dari catatan sejarah. Terlebih semenjak dia bergabung bersama tokoh-tokoh lain untuk menandatangani Petisi 50. Maka dilandasi dengan keyakinan mengangkat kembali nama dia yang mulai tenggelam, maka Unissula berinisiatif menggelar seminar nasional tersebut.

Sumber: unissula.ac.id