Inilah Kendala Menulis Yang Mematikan

Diposting pada 32 views
Berbicara ihwal kendala menulis rasanya bukan hal gres lagi bagi seorang blogger. Terlebih bagi mereka yang mengelola blog secara eksklusif tanpa menggunakan jasa penulis. Selain mereka sudah bersahabat ihwal masalah tersebut mereka juga sudah bisa mengatasinya.

Oleh lantaran itu goresan pena yang mereka hasilkan anggun dan berkualitas lantaran mereka mempunyai tips diam-diam cara menulis artikel yang baik. Maka jangan heran bila aktifitas menulis  bukan hal yang rutinitas belaka bagi mereka. Tulisan sudah menjadi sarana untuk membangun identitas diri.

Bagaimana tidak dengan menulis kita sanggup membagikan kepada orang lain karya terbaik kita. Sekedar isu bahwa menulis diblog ialah cara terbaru untuk menjadi terkenal diinternet. Melalui goresan pena anda bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa anda seorang penulis yang patut diapresiasi karya-karyanya.

Masalahnya tidak semua blogger bisa menulis secara pribadi. Dari sini banyak sekali kendala mulai mengemuka. Jika kendala ini terus berlanjut bukan tidak mungkin tidak akan ada goresan pena yang sanggup diselesaikan.

1.  Tidak percaya diri
Pada kenyataannya percaya diri merupakan masalah klasik yang banyak dikeluhkan. Seringkali masalah ini mempengaruhi emosi untuk mengeluarkan ide maupun inspirasi. Akibatnya ketika menulis mulai banyak bermunculan pandangan tidak puas dengan kemampuan diri sendiri. Tentu saja ini menjadi jalan terjal seorang penulis yang mematikan.

Namun demikian bukan hal yang tidak mungkin untuk dilalui. Ingat, seorang penulis profesional sekalipun pernah mencicipi tidak percaya diri terhadap apa yang ditulisnya. Awalnya. Namun seiring waktu mereka menemukan cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis.

2.  Tulisan harus sempurna
Sebagai seorang penulis sebetulnya masuk akal bila mengharapkan goresan pena harus sempurna. Namun bagi seorang penulis pemula hal ini sulit terwujud. Selain lantaran kurangnya ilmu juga terdapat faktor pengalaman menulis.

Kalau anda ingin goresan pena harus tepat maka tidak ada artikel yang anda hasilkan. Terlebih lagi bila berpatokan pada kualitas goresan pena orang lain. Itu ibarat menulis dengan gaya orang lain sehingga sulit menyusun kata-kata.

Berdasarkan fakta lamanya jam terbang menulis akan meningkatkan kualitas goresan pena yang dihasilkan. Sementara itu gaya bahasa yang dimiliki juga akan berubah lebih efektif dan komunikatif. Oleh lantaran itu jangan berharap tepat cukup anda yakin saja bahwa apa yang anda tulis bermanfaat bagi orang lain.

3.  Sibuk dengan paragraf pembuka
Sebagai penulis kita harus paham bahwa judul ialah gembok goresan pena sedangkan paragraf pembuka ialah pintu tulisannya. Dari 2 hal itulah emosi pertama pembaca akan dirasuki. Di samping itu terbentuk perasaan menarik atau bosan tidaknya goresan pena tersebut oleh pembaca.

Namun masalah yang sulit bagi penulis pemula ialah menciptakan paragraf pembuka.
Dari banyak sekali variasi kalimat pembuka seringkali mereka galau mulai dari mana. Harus membentuk kalimat yang bagaimana? Yang ibarat apa? Apa kuncinya?
Padahal solusinya cukup sederhana. Ada 2 pilihan yang sanggup anda gunakan yaitu menyajikan fakta menyenangkan atau mengungkapkan keresahan dari materi tersebut.

4.  Malas
Tidak sanggup dipungkiri bahwa malas ialah penyakit jantung kronis seorang penulis. Bukan hal yang gampang untuk menulis sementara otak tidak mau berpikir. Jangankan menulis, untuk memegang alat tulis saja terasa berat.

Ada beberapa lantaran mengapa malas menjadi penyakit yang mematikan. Selain faktor emosi faktor motivasi juga berpengaruh. Emosi yang tidak terkontrol menciptakan menulis tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan. Sementara itu sasaran utama menciptakan blog terkenal yang belum atau sulit tercapai menciptakan motivasi menulis berkurang.

Untuk mengatasinya anda harus banyak-banyak membaca artikel motivasi dan pengalaman para blogger. Dengan begitu anda bisa mendongkrak visi dan misi anda menjadi seorang penulis.

5.  Terlalu overload materi tulisan
Seperti yang kita ketahui banyak semakin banyak tumpuan yang tersedia maka peluang artikel nantinya semakin baik. Tulisan yang akan dimuat menjadi lebih lengkap dan bervariasi.

Namun tidak demikian bagi penulis pemula. Bagi mereka materi ibarat ini bisa menjadi bumerang. Selain lantaran faktor harus memulai darimana juga terbentur kalimat per kalimat dari tumpuan artikel yang dibaca. Akibatnya mereka terhambat untuk merangkai kalimat gres yang bebas copy-paste.

Sebenarnya masalah ini bisa diatasi. Caranya mulai berhenti fokus pada kalimat yang ditulis orang lain, tetapi fokus mencari ide pokok paragraf tersebut. Kalau anda sanggup mengambil ide pokok secara ringkasan maka wangsit dan ide menulis anda akan berjalan. Dengan ini goresan pena yang anda hasilkan akan lebih unik dan spesial.

6.  Sarana kawasan menulis tidak rapi
Sarana paling anggun untuk menulis ialah menggunakan meja belajar. Selain merupakan posisi berguru yang ideal juga menciptakan otak lebih segar. Oleh lantaran itu meja berguru sangatlah penting untuk menulis.

Namun bagaimana bila meja berguru banyak buku berserakan. Konsentrasi menurun? Sudah niscaya itu. Terlebih bila buku tersebut bukan materi tumpuan yang berkaitan dengan apa yang anda tulis.

Dalam keadaan begini tidak ada cara lain selain merapikannya. Kalau bisa sebaiknya anda menulis tidak sambil menghadap buku-buku itu. Bagaimanapun juga buku lain menciptakan fokus berpikir menjadi terbelah. Menghilangkan gangguan ini membantu menciptakan daya imajinasi anda berkembang secara bebas.

7.  Lingkungan menulis berisik
Menulis ialah reaksi otak yang berpikir. Jika anda menulis dalam suasana berisik bukan tidak mungkin ide dan wangsit menjadi hilang.

Mau bukti? Silahkan anda menulis ketika TV atau radio menyala. Pasti ide kreatif anda akan seret.

Menulis sebaiknya dalam kondisi damai atau hening. Dengan begitu semua keresahan ide segar gampang bermunculan untuk dijadikan kalimat.

Meskipun kendala menulis cukup banyak dan bervariasi, tetapi jangan dijadikan beban berat. Jangan disibukkan dengan pikiran yang menakutkan. Buatlah masalah tersebut sebagai tantangan menuju proses penulis profesional.