Gamelan Sunda

Diposting pada 43 views
 Istilah gamelan merujuk pada instrumennya  Gamelan Sunda

Gamelan Sunda  Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam aneka macam jenis ukuran dan bentuk ensembel.

Setiap kawasan di Indonesia memiliki musik dan tradisinya masing-masing. Gamelan yakni salah satu alat musik yang paling terkenal dan dikagumi oleh warga internasional. Gamelan dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :
1. Gamelan Jawa
2. Gamelan Bali, dan
3. Gamelan Sunda. 


Dari segi irama, gamelan Sunda sanggup dibedakan dengan gamelan Bali dan gamelan Jawa. Gamelan Jawa mempunyai nada yang lebih merdu dengan tempo lambat, berbanding terbaik dengan gamelan Bali yang cenderung rancak. Gamelan Sunda didominasi oleh bunyi suling atau rebab, sehingga lebih berkesan mendayu-dayu.


Tidak ada yang menyebutkan kapan tepatnya gamelan masuk ke tanah Sunda, tetapi gejala adanya kesenian ini di tatar Sunda dijelaskan dalam naskah Sang Hyang Siksa Kanda Ng Karesian, bahwa kesenian ini mulai masuk pada periode 16. Dalam naskah tersebut, dijelaskan bahwa pada waktu itu pemain gamelan disebut Kumbang Gending, dan hebat karawitan disebut Paraguna. Naskah Sewaka Darma menyebutkan bahwa gamelan sunda disebut juga Gangsa.


Mulanya, gamelan sunda hanya terdiri atas bonang, saron panjang, jenglong, dan goong. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan kebutuhan musikal, contohnya penambahan kendang, suling, dan rebab.


Bupati Cianjur, RT Wiranatakusumah V (1912—1920) sempat melarang permainan gamelan yang disertai dengan nyanyian, alasannya yakni menciptakan suasana menjadi kurang khidmat. 

Setelah diangkat menjadi bupati Bandung pada tahun 1920, dia memboyong gamelan dari pendopo Cianjur ke pendopo Bandung, berikut paranayaga. Gamelan berjulukan Pamagersari ini memukau saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, bernama  Anang Thayib. Ia tertarik menggunakannya dalam program hajatan dan memohon ijin pada Bupati sekaligus sahabatnya itu. Sejak itu, degung digunakan untuk perhelatan umum.


Terdapat tiga jenis gamelan yang berkembang di tanah Sunda, antara lain gamelan renteng, gamelan salendro atau pelog, dan gamelan ketuk tilu. Gamelan salendro biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari-tarian, kliningan, dan lain-lain. Sehingga gamelan salendro menjadi gamelan yang poluler diantara jenis gamelan yang lain.


Gamelan Renteng berkembang di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong. melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan sunda yang kini berkembang bermula dari gamelan renteng. Adapun Gamelan Ketuk Tilu biasanya digunakan untuk mengiringi kesenian ketuk tilu, ronggeng gunung, ronggeng ketuk, doger, dan topeng banjet.