Berjuang Merebut Kemerdekaan Dengan Bambu Runcing ?

Diposting pada 13 views

Foto: Postingan ke-268 : Berjuang Merebut Kemerdekaan dengan Bambu Runcing?  berani baca harus like! post by -= F-A =-  Mari kita sejenak melihat sejarah usaha bangsa kita melawan penjajah Belanda dan Jepang, apa yang dipakai pejuang-pejuang kita dulu ? Bambu runcing ! ya senjata yang sangat sederhan a, hanya bambu yang diruncingkan penggalan ujungnya. Itulah senjata yang digunakan. Namun dengan semangat jihad, hidup atau mati, merdeka atau mati, tercapailah apa yang dicita-citakan, KEMERDEKAAN !  Mungkin dikala itu ada yang menilai, mana mungkin bembu runcing sanggup mengalahkan tank-tank Belanda dan Jepang ? Mana mungkin bambu runcing sanggup mengalahkan peralatan perang modern yang dimilki Belanda dan Jepang ?  Kita simpan sejenak dongeng bambu runcing. Kita lihat betapa hebatnya negara penjajah kita dikala itu: Jepang. Jepang menunjukkan kehebatannya dengan menyerang pearl harbour.  Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan bahari AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.  Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan kawasan yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.  Amerika Serikat membalas Perebutan pulau-pulau ibarat Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menimbulkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan bahari dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akhir kebakaran andal di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar pusat produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.  Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, ibarat yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.  Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan gres Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun bergotong-royong Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang hingga tanggal 8 Agustus 1945, sesudah bom atom pertama dilepaskan. Jepang mengalah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.  Mari kita lihat, mungkinkah bambu runcing melawan senjata super modern penjajah kita?  Setelah menyerahnya Jepang, Sekutu memerintahkan biar Pemerintahan militer Jepang di Indonesia terus menjaga status quo sambil menunggu kedatangan pasukan Sekutu. Meskipun masih mempunyai kekuatan militer di Indonesia, jepang enggan mengerahkan pasukannya.  Beberapa dikala sesudah menyerahnya Jepang ke Sekutu, para meuda menginginkan segera dilaksanakan perebutan kekuasan dari Jepang. Namun “kaum tua” menolaknya. Kemudian kita mengenal sejarah penculikan Soekarno yang dibawa ke Rengasdengklok.  Secara sporadis para cowok melaksanakan kudeta dengan mengambilalih stasiun kereta api Manggarai dan Jatinegara serta sejumlah sarana dan prasrana lainnya.  “Bantuan Jepang”  Aksi cowok menimbulkan problem di kalangan petinggi Jepang. Di satu sisi harus menjaga Status Quo hingga Sekutu datang, di sisi lain orang Jepang sakit hati atas kekalahan mereka dari Sekutu. Beberapa dari tentara Jepang memutuskan bergabung dengan pejuang Indonesia untuk menghadapi musuh bersama yaitu pasukan Sekutu dan Belanda.  Sebagian besar orang Jepang yang sakit hari itu menentukan mendukung usaha Bangsa Indonesia secara diam-diam. Berdasarkan rapat staf Tentara Ke-16 Jepang pada 21 September 1945, Para Petinggi Militer Jepang di Jawa diperintahkan untuk membantu bangsa Indonesia.  Teknisnya secara semu para cowok RI harus melaksanakan serangan militer ke tangsi-tangsi Militer Jepang. Namun, jepang tidak akan melaksanakan perlawanan bahkan mereka akan lari tunggang langgang sambil meninggalkan senjata. para cowok menyerang dengan bambu runcing. Makara Jepang bukan lari tunggang langgang lantaran takut bambu runcing tetapi lantaran diperintahkan oleh komandannya.  Di Bandung, Laksamana Maeda membentuk janji dengan pejuang Indonesia untuk melaksanakan pertempuran Sandiwara guna mengelabui pesawat pengintai Sekutu. Di tengan “Pertempuran Dahsyat” itu, pasukan Maeda kemudian menarik diri dan meninggalkan persenjataan mereka biar diambil oleh para pejuang Indonesia. Sebagai imbalannya, para pejuang menghadiahkan dua ekor monyet kepada Maeda untuk dibawa pulang ke Jepang.  Namun, tidak semua tentara jepang mentaati perintah atasannya di Jakarta. Panglima Jepang di Jawa Tengah, Jenderal Nakamura telah memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata kepada pihak Indonesia. Namun, Komandan Garnisun Jepang di Semarang, Mayor Kido menolak dan mengabaikan perintah ini. Terjadilah pertempuran antara pihak Indonesia dengan Pasukan Jepang pimpinan Mayor Kido di Semarang yang dikenal dengan ‘Pertempuran Lima Hari’ dan berakhir ketika Sekutu tiba Mengambil alih Indonesia.  Diperkirakan dalam pertempuran Lima Hari ini, 2000 orang Indonesia terbunuh. Pertempuran beakhir ketika Tentara Inggris tiba di Semarang.  Makara kita harus logis dalam menilai sejarah. Maaf bukan mengecilkan arti usaha Bangsa, namun ini penting biar belum dewasa kita berpikir jernih dan mencar ilmu besar lengan berkuasa menjadi pemenang di dunia ini. Jika kita terlena dengan “khayalan” bahwa berjuang melawan pasukan Jepang yang mempunyai pesawat pem-bom, Kapal Induk, Meriam dan Tank Baja mengadalkan Bambu Runcing.  Ajarkan belum dewasa kita bahwa bila ingin menjadi bangsa yang besar berpikirlah besar. Ingin menjadi bangsa yang kuat, cerdaslah melalui pendidikan. Dan ingin menguasai dunia kuasailah teknologi, termasuk teknologi perang.  Saya akan sangat gembira ketika ada belum dewasa kita kelak cukup umur bisa membuat teknolgi super canggih untuk “menundukkan” bangsa lain. Tanpa harus terus menerus mengkhayal yang kecil melawan yang besar tanpa logika.  Untunglah Founding Father kita, bapak pendiri bangsa ini sangat bijak dengan menyebutkan kemenangan besar kemerdekaan RI ialah Atas Berkat Ramat Allah SWT sehingga kemerdekaan sanggup terwujud melalui cara-Nya. Perjuangan melawan sekutu, militer RI dan para militer, cowok dengan gagah berani menyambut kedatangan Sekutu dan NICA-Belanda dengan tembakan Senjata dan Meriam peninggalan Jepang.  Makara berdasarkan saya, jangan terlalu dibesar-besarkan usaha yang bermodal bambu runcing itu sanggup mengalahkan penjajah Belanda dan Jepang ! Barangkali rakyat awam dikala itu melihat cowok menyerang tangsi militer jepang memakai bambu runcing memang benar adanya. Namun itu semua lantaran ada rahasia tingkat tinggi militer yang tak diketahuinya.  Jangan hingga belum dewasa kita memandang bahwa kalau menjadi TNI tidak memerlukan senjata canggih, cukup bambu runcing! Saya sangat gembira ketika militer Indonesia “Sangar” dengan senjata super canggihnya, apalagi buatan dalam negeri.
Mari kita sejenak melihat sejarah usaha bangsa kita melawan penjajah Belanda dan Jepang, apa yang dipakai pejuang-pejuang kita dulu ? Bambu runcing ! ya senjata yang sangat sederhan
a, hanya bambu yang diruncingkan penggalan ujungnya. Itulah senjata yang digunakan. Namun dengan semangat jihad, hidup atau mati, merdeka atau mati, tercapailah apa yang dicita-cit

akan, KEMERDEKAAN !

Mungkin dikala itu ada yang menilai, mana mungkin bembu runcing sanggup mengalahkan tank-tank Belanda dan Jepang ? Mana mungkin bambu runcing sanggup mengalahkan peralatan perang modern yang dimilki Belanda dan Jepang ?

Kita simpan sejenak dongeng bambu runcing. Kita lihat betapa hebatnya negara penjajah kita dikala itu: Jepang. Jepang menunjukkan kehebatannya dengan menyerang pearl harbour.

Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan bahari AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.

Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan kawasan yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

Amerika Serikat membalas
Perebutan pulau-pulau ibarat Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menimbulkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan bahari dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akhir kebakaran andal di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar pusat produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.

Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, ibarat yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.

Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan gres Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun bergotong-royong Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang hingga tanggal 8 Agustus 1945, sesudah bom atom pertama dilepaskan. Jepang mengalah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.

Mari kita lihat, mungkinkah bambu runcing melawan senjata super modern penjajah kita?

Setelah menyerahnya Jepang, Sekutu memerintahkan biar Pemerintahan militer Jepang di Indonesia terus menjaga status quo sambil menunggu kedatangan pasukan Sekutu. Meskipun masih mempunyai kekuatan militer di Indonesia, jepang enggan mengerahkan pasukannya.

Beberapa dikala sesudah menyerahnya Jepang ke Sekutu, para meuda menginginkan segera dilaksanakan perebutan kekuasan dari Jepang. Namun “kaum tua” menolaknya. Kemudian kita mengenal sejarah penculikan Soekarno yang dibawa ke Rengasdengklok.

Secara sporadis para cowok melaksanakan kudeta dengan mengambilalih stasiun kereta api Manggarai dan Jatinegara serta sejumlah sarana dan prasrana lainnya.

“Bantuan Jepang”

Aksi cowok menimbulkan problem di kalangan petinggi Jepang. Di satu sisi harus menjaga Status Quo hingga Sekutu datang, di sisi lain orang Jepang sakit hati atas kekalahan mereka dari Sekutu. Beberapa dari tentara Jepang memutuskan bergabung dengan pejuang Indonesia untuk menghadapi musuh bersama yaitu pasukan Sekutu dan Belanda.

Sebagian besar orang Jepang yang sakit hari itu menentukan mendukung usaha Bangsa Indonesia secara diam-diam. Berdasarkan rapat staf Tentara Ke-16 Jepang pada 21 September 1945, Para Petinggi Militer Jepang di Jawa diperintahkan untuk membantu bangsa Indonesia.

Teknisnya secara semu para cowok RI harus melaksanakan serangan militer ke tangsi-tangsi Militer Jepang. Namun, jepang tidak akan melaksanakan perlawanan bahkan mereka akan lari tunggang langgang sambil meninggalkan senjata. para cowok menyerang dengan bambu runcing. Makara Jepang bukan lari tunggang langgang lantaran takut bambu runcing tetapi lantaran diperintahkan oleh komandannya.

Di Bandung, Laksamana Maeda membentuk janji dengan pejuang Indonesia untuk melaksanakan pertempuran Sandiwara guna mengelabui pesawat pengintai Sekutu. Di tengan “Pertempuran Dahsyat” itu, pasukan Maeda kemudian menarik diri dan meninggalkan persenjataan mereka biar diambil oleh para pejuang Indonesia. Sebagai imbalannya, para pejuang menghadiahkan dua ekor monyet kepada Maeda untuk dibawa pulang ke Jepang.

Namun, tidak semua tentara jepang mentaati perintah atasannya di Jakarta. Panglima Jepang di Jawa Tengah, Jenderal Nakamura telah memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata kepada pihak Indonesia. Namun, Komandan Garnisun Jepang di Semarang, Mayor Kido menolak dan mengabaikan perintah ini. Terjadilah pertempuran antara pihak Indonesia dengan Pasukan Jepang pimpinan Mayor Kido di Semarang yang dikenal dengan ‘Pertempuran Lima Hari’ dan berakhir ketika Sekutu tiba Mengambil alih Indonesia.

Diperkirakan dalam pertempuran Lima Hari ini, 2000 orang Indonesia terbunuh. Pertempuran beakhir ketika Tentara Inggris tiba di Semarang.

Makara kita harus logis dalam menilai sejarah. Maaf bukan mengecilkan arti usaha Bangsa, namun ini penting biar belum dewasa kita berpikir jernih dan mencar ilmu besar lengan berkuasa menjadi pemenang di dunia ini. Jika kita terlena dengan “khayalan” bahwa berjuang melawan pasukan Jepang yang mempunyai pesawat pem-bom, Kapal Induk, Meriam dan Tank Baja mengadalkan Bambu Runcing.

Ajarkan belum dewasa kita bahwa bila ingin menjadi bangsa yang besar berpikirlah besar. Ingin menjadi bangsa yang kuat, cerdaslah melalui pendidikan. Dan ingin menguasai dunia kuasailah teknologi, termasuk teknologi perang.

Saya akan sangat gembira ketika ada belum dewasa kita kelak cukup umur bisa membuat teknolgi super canggih untuk “menundukkan” bangsa lain. Tanpa harus terus menerus mengkhayal yang kecil melawan yang besar tanpa logika.

Untunglah Founding Father kita, bapak pendiri bangsa ini sangat bijak dengan menyebutkan kemenangan besar kemerdekaan RI ialah Atas Berkat Ramat Allah SWT sehingga kemerdekaan sanggup terwujud melalui cara-Nya. Perjuangan melawan sekutu, militer RI dan para militer, cowok dengan gagah berani menyambut kedatangan Sekutu dan NICA-Belanda dengan tembakan Senjata dan Meriam peninggalan Jepang.

Makara berdasarkan saya, jangan terlalu dibesar-besarkan usaha yang bermodal bambu runcing itu sanggup mengalahkan penjajah Belanda dan Jepang ! Barangkali rakyat awam dikala itu melihat cowok menyerang tangsi militer jepang memakai bambu runcing memang benar adanya. Namun itu semua lantaran ada rahasia tingkat tinggi militer yang tak diketahuinya.

Jangan hingga belum dewasa kita memandang bahwa kalau menjadi TNI tidak memerlukan senjata canggih, cukup bambu runcing! Saya sangat gembira ketika militer Indonesia “Sangar” dengan senjata super canggihnya, apalagi buatan dalam negeri.