Amerika Kalah Perang Di Vietnam Alasannya Ialah Indonesia

Diposting pada 22 views

Foto: AMERIKA KALAH PERANG DI VIETNAM, KARENA INDONESIA    Banyak orang tahu Amerika kalah perang di Vietnam. Tapi yang tidak banyak orang tidak tahu adalah, salah satu alasannya ialah Amerika kalah di Vietnam ialah Indonesia. Kok bisa? Simak sejarahnya.  Amerika ialah negara terkuat di dunia selama beberapa kala belakangan ini. Kuat di bidang ekonomi, berpengaruh di bidang militer. Sekedar untuk menggambarkan kekuatan militernya, kita bisa melihat dua fakta: Pertama, penerimaan devisa nomor satu di Amerika ialah dari ekspor senjata, gres kemudian dari ekspor film.  Kedua, PENTAGON, Departemen Pertahanan Amerika Serikat ialah institusi pemegang hak cipta terbanyak di dunia. Kebanyakan penemuannya ialah di bidang persenjataan. Artinya, persenjataan Amerika sudah terbukti paling berkembang di dunia. Dua fakta ini menunjukkan betapa kuatnya Amerika. Akan tetapi dengan segala kekuatan ini, Amerika kalah di Vietnam. Setidaknya dari 2,7 juta orang Amerika yang bertugas dari Vietnam tercatat 58.159 orang tewas, 1.719 hilang, dan 303.635 orang luka-luka (wikipedia). Memang jumlah ini lebih sedikit dari jumlah orang Vietnam yang tewas, tapi hengkangnya Amerika dari wilayah Indo Cina tersebut jelas-jelas merupakan fakta sejarah bahwa Amerika kalah dalam perang Vietnam. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?  Tentara Amerika kalah dalam perang Vietnam lantaran tidak bisa menghadapi serangan gerilyawan Vietcong. Gerilyawan Vietcong sangat mengusai medan pertempuran di hutan-hutan. Mereka sangat menguasai teknik perang bergerilya. Lalu darimana gerilyawan Vietkong mencar ilmu perang gerilya yang hasilnya menang perang lawan Amerika? Disinilah hubungannya perang Vietnam dan Indonesia. Beberapa pimpinan gerilyawan Vietkong menyampaikan bahwa mereka membaca buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” karangan Jendral AH Nasution dan menjadikannya fatwa mereka dalam menetapkan strategi. Nasution ialah salah seorang dari 3 Jenderal Besar bintang 5 di Indonesia.  Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga jago perang gerilya lantaran kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi alam dan masyarakat yang paling ibarat dengan Vietnam ialah Indonesia dan itu ada dalam buku karangan Nasution (Dr. Salim Said dan Saleh A Djamhari –sejarawan UI- menyampaikan hal ini dalam beberapa seminar). Kaprikornus tidak hiperbola jikalau dikatakan, Amerika kalah perang (salah satunya) lantaran Indonesia.  Apa hikmahnya? Tentu saja goresan pena ini untuk membangga-banggakan sebuah perang dengan jutaan korban. Tetap saja perang ialah bencana, dan kita berdoa semoga tidak terjadi lagi. Akan tetapi fakta di atas menunjukkan bahwa pemikiran seorang anak bangsa Indonesia bisa mempengaruhi peta dunia. Karena itu jangan ragu untuk berkarya dan menuangkan pikiran kita, lantaran pemikiran tidak mengenal batas daerah dan waktu. Fakta sejarah ini juga menunjukkan sekali lagi kekuatan sebuah goresan pena atau sebuah buku.  Jutaan orang mungkin punya pengalaman perang gerilya, tapi jadinya yang bisa menjadi rujukan ialah yang menulis. Setelah kekalahannya di Vietnam, Amerika berusaha kembali menaikkan gambaran dan harga dirinya. Puluhan film-film bertemakan perang Vietnam ibarat film Rambo dan film serinya “Tour of Duty”. bermunculan dengan sudut pandang Amerika menang melawan gerilyawan Vietnam. Belajar dari Vietnam, Amerika kini menghindari perang pribadi kecuali didahului serangan udara bertubi-tubi.  Lalu apa yang bisa kita pelajari dari perang Vietnam? Ya , kita bisa mencar ilmu bahwa kita tetap punya kesempatan untuk bangkit, kita tetap punya kesempatan untuk menang. Pertempuran kita ketika ini bisa berwujud banyak bentuk. Saat ini kita bertempur secara ekonomi, budaya, politik, dsb. Jika kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang, kita bisa terjajah secara ekonomi, budaya, politik, dsb. Jangan bersantai-santai, lantaran bangsa kita bisa jadi korban tergilas kemajuan zaman, lantaran tidak bisa mengejar persaingan. Bangsa besar yang mungkin lebih harus kita cermati ketika ini justru Cina. Saat ini Cina ialah kekuatan ekonomi terbesar kedua sehabis Amerika, sehabis tahun ini melampaui Jepang. Dalam waktu tidak terlalu usang diduga Cina akan bisa melampaui Amerika. Kebijakan ekonomi Cina ketika ini mengimpor begitu banyak gas alam dan watu bara dari Indonesia, bahkan mereka menumpuk-nya untuk cadangan energi. Negara Cina punya material tersebut di tanah mereka tetapi mereka menentukan untuk mengimpor dari Indonesia.  Kenapa? Lihat 10 - 20 tahun mendatang. Bisa jadi kita kehabisan watu bara dan gas alam (sekarang kita minyak bumi sudah mengimpor) dan ketika harga energi melambung tinggi mungkin kita justru mengimpor dari Cina dengan harga sangat mahal. Di bidang moneter (finansial) Cina juga sedang berbenah. Cina juga membeli berton-ton emas sebagai cadangan devisanya (Negara Cina sendiri percaya ke depan cadangan emas lebih berpengaruh dari dollar Amerika). Langkah ini untuk memperkuat cadangan devisa dollar Amerika milik Cina yang bahkan jumlahnya lebih banyak dari milik Amerika sendiri. Jika pemimpin negara kita tidak mencermati keadaan ini, maka masa depan bangsa cukup mengkhawatirkan. Kini saatnya kita sebagai individu berusaha menyelamatkan bangsa dimulai dari diri sendiri.Memulai dari diri sendiri dengan membangun keluarga yang kuat. Memulai dengan membangun keluarga yang memiliki harapan tinggi dengan spirit   #27
Banyak orang tahu Amerika kalah perang di Vietnam. Tapi yang tidak banyak orang tidak tahu adalah, salah satu alasannya ialah Amerika kalah di Vietnam ialah Indonesia. Kok bisa? Simak sejarahnya.

Amerika ialah negara terkuat di dunia selama beberapa kala belakangan ini. Kuat di bidang ekonomi, berpengaruh di bidang militer. Sekedar untuk menggambarkan kekuatan militernya, kita bisa melihat dua fakta:
Pertama, penerimaan devisa nomor satu di Amerika ialah dari ekspor senjata, gres kemudian dari ekspor film.

Kedua, PENTAGON, Departemen Pertahanan Amerika Serikat ialah institusi pemegang hak cipta terbanyak di dunia. Kebanyakan penemuannya ialah di bidang persenjataan. Artinya, persenjataan Amerika sudah terbukti paling berkembang di dunia. Dua fakta ini menunjukkan betapa kuatnya Amerika. Akan tetapi dengan segala kekuatan ini, Amerika kalah di Vietnam. Setidaknya dari 2,7 juta orang Amerika yang bertugas dari Vietnam tercatat 58.159 orang tewas, 1.719 hilang, dan 303.635 orang luka-luka (wikipedia). Memang jumlah ini lebih sedikit dari jumlah orang Vietnam yang tewas, tapi hengkangnya Amerika dari wilayah Indo Cina tersebut jelas-jelas merupakan fakta sejarah bahwa Amerika kalah dalam perang Vietnam. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?

Tentara Amerika kalah dalam perang Vietnam lantaran tidak bisa menghadapi serangan gerilyawan Vietcong. Gerilyawan Vietcong sangat mengusai medan pertempuran di hutan-hutan. Mereka sangat menguasai teknik perang bergerilya. Lalu darimana gerilyawan Vietkong mencar ilmu perang gerilya yang hasilnya menang perang lawan Amerika? Disinilah hubungannya perang Vietnam dan Indonesia. Beberapa pimpinan gerilyawan Vietkong menyampaikan bahwa mereka membaca buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” karangan Jendral AH Nasution dan menjadikannya fatwa mereka dalam menetapkan strategi. Nasution ialah salah seorang dari 3 Jenderal Besar bintang 5 di Indonesia.

Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga jago perang gerilya lantaran kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi alam dan masyarakat yang paling ibarat dengan Vietnam ialah Indonesia dan itu ada dalam buku karangan Nasution (Dr. Salim Said dan Saleh A Djamhari –sejarawan UI- menyampaikan hal ini dalam beberapa seminar). Kaprikornus tidak hiperbola jikalau dikatakan, Amerika kalah perang (salah satunya) lantaran Indonesia.

Apa hikmahnya?
Tentu saja goresan pena ini untuk membangga-banggakan sebuah perang dengan jutaan korban. Tetap saja perang ialah bencana, dan kita berdoa semoga tidak terjadi lagi. Akan tetapi fakta di atas menunjukkan bahwa pemikiran seorang anak bangsa Indonesia bisa mempengaruhi peta dunia. Karena itu jangan ragu untuk berkarya dan menuangkan pikiran kita, lantaran pemikiran tidak mengenal batas daerah dan waktu. Fakta sejarah ini juga menunjukkan sekali lagi kekuatan sebuah goresan pena atau sebuah buku.

Jutaan orang mungkin punya pengalaman perang gerilya, tapi jadinya yang bisa menjadi rujukan ialah yang menulis. Setelah kekalahannya di Vietnam, Amerika berusaha kembali menaikkan gambaran dan harga dirinya. Puluhan film-film bertemakan perang Vietnam ibarat film Rambo dan film serinya “Tour of Duty”. bermunculan dengan sudut pandang Amerika menang melawan gerilyawan Vietnam. Belajar dari Vietnam, Amerika kini menghindari perang pribadi kecuali didahului serangan udara bertubi-tubi.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari perang Vietnam?
Ya , kita bisa mencar ilmu bahwa kita tetap punya kesempatan untuk bangkit, kita tetap punya kesempatan untuk menang. Pertempuran kita ketika ini bisa berwujud banyak bentuk. Saat ini kita bertempur secara ekonomi, budaya, politik, dsb. Jika kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang, kita bisa terjajah secara ekonomi, budaya, politik, dsb. Jangan bersantai-santai, lantaran bangsa kita bisa jadi korban tergilas kemajuan zaman, lantaran tidak bisa mengejar persaingan.
Bangsa besar yang mungkin lebih harus kita cermati ketika ini justru Cina. Saat ini Cina ialah kekuatan ekonomi terbesar kedua sehabis Amerika, sehabis tahun ini melampaui Jepang. Dalam waktu tidak terlalu usang diduga Cina akan bisa melampaui Amerika. Kebijakan ekonomi Cina ketika ini mengimpor begitu banyak gas alam dan watu bara dari Indonesia, bahkan mereka menumpuk-nya untuk cadangan energi. Negara Cina punya material tersebut di tanah mereka tetapi mereka menentukan untuk mengimpor dari Indonesia.

Kenapa?
Lihat 10 – 20 tahun mendatang. Bisa jadi kita kehabisan watu bara dan gas alam (sekarang kita minyak bumi sudah mengimpor) dan ketika harga energi melambung tinggi mungkin kita justru mengimpor dari Cina dengan harga sangat mahal. Di bidang moneter (finansial) Cina juga sedang berbenah. Cina juga membeli berton-ton emas sebagai cadangan devisanya (Negara Cina sendiri percaya ke depan cadangan emas lebih berpengaruh dari dollar Amerika). Langkah ini untuk memperkuat cadangan devisa dollar Amerika milik Cina yang bahkan jumlahnya lebih banyak dari milik Amerika sendiri.
Jika pemimpin negara kita tidak mencermati keadaan ini, maka masa depan bangsa cukup mengkhawatirkan. Kini saatnya kita sebagai individu berusaha menyelamatkan bangsa dimulai dari diri sendiri.Memulai dari diri sendiri dengan membangun keluarga yang kuat. Memulai dengan membangun keluarga yang memiliki harapan tinggi dengan spirit