2 Presiden Ri Yang Dihilangkan Dalam Sejarah

Diposting pada 26 views
  Mungkin masih banyak dari kita yang  beranggapan bahwa Indonesia hingga  ketika ini gres di 2 Presiden RI Yang Dihilangkan Dalam Sejarah

Mungkin masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa Indonesia hingga ketika ini gres dipimpin oleh 6 orang presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan sekarang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun hal itu ternyata keliru.

Indonesia, berdasarkan catatan sejarah, hingga ketika ini bergotong-royong sudah dipimpin oleh 8 orang presiden. Lalu, siapa dua orang lagi yang pernah memimpin Indonesia ???
Dua tokoh yang terlewatkan itu yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut,
sanggup alasannya alpa, tetapi mungkin juga disengaja.
Sjafruddin Prawiranegara yaitu Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal Agresi Militer II, sedangkan Mr. Assaat yaitu Presiden RI ketika Republik ini menjadi bab dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember 1948, ketika Belanda melaksanakan Agresi Militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI ketika itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk lalu diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

President Ke 2 Indonesia Sjafruddin Prawiranegara:

Keterangan:

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, ketika itu Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Iboe Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak sanggup mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

Namun ketika itu telegram tersebut tidak hingga ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada ketika bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah bersahabat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).
Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui permintaan itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI “diproklamasikan”. Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinet-nya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

President ke 3 kita Mr.Assaat:

Quote:
Kutip dari Omongannya “adhree”
for Keterangan:
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).
RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya yaitu Republik Indonesia. Negara bab lainnya ibarat Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat yaitu Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI ketika itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan lalu muncul lagi. Namun, dengan mengakui eksistensi RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia semenjak tahun 1945 tidak pernah terputus hingga kini. Kita ketahui bahwa lalu RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

Nah para pembaca, dengan demikian, SBY yaitu presiden RI yang ke-8.
Urutan Presiden RI yang “kronologis” yaitu sebagai berikut : Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, (Alm.) KH. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono